Catatan: Ulasan ini mungkin menyinggung hal yang sensitif dan mengandung spoiler. Harap baca dengan hati-hati. 

Putrika 1st.cut, atau dengan judul lengkapnya Putrika 1st.cut: The Reason She Must Perish, adalah sebuah novel visual garapan circle doujin yang bernama Totometori, yang sekaligus merupakan karya debut mereka. Totometori sendiri merupakan circle doujin yang didirikan oleh Lucle (Suisou Ginka no Istoria, Kami no Ue no Mahoutsukai) dan Sushimekabu. Kedua orang ini juga merupakan salah satu bagian dari studio novel visual Uguisu Kagura.

Putrika pertama kali dirilis pada 7 Oktober 2024, dan dikerjakan oleh beberapa orang yaitu Lucle sebagai penulis skenario, Sushimekabu (Kiriha) sebagai ilustrator sekaligus yang mendesain karakter dari Putrika, Meto Hanato dalam hal seluruh musik dan lagu pembuka yang dibawakan oleh nayuta. Putrika sendiri juga tersedia dalam berbagai bahasa yaitu bahasa Mandarin, Korea, dan bahasa Inggris yang dibawakan oleh Kagami Games. Putrika bisa dibeli melalui laman Steam.

Sinopsis

‶Aku bukan manusia, mereka menyebutku Iblis″

Cerita dimulai dari pengakuan seorang pemuda bernama Remi, seorang pemuda yang bekerja sebagai ahli perhiasan yang dibesarkan oleh para iblis, dan seorang gadis yang kehilangan ingatan bernama Lazriel. Mereka berdua menjalani kehidupan damai hingga Lazriel mulai melihat mimpi seorang gadis yang berma Ilsa. Seorang gadis yang sungguh taat kepada kepercayaannya terhadap malaikat dan Tuhan. Dan dari saat itu kehidupan mereka berdua berubah ketika kebenaran mengenai mimpi yang dilihat Lazriel itu bukanlah hanya mimpi saja…

Ulasan

Main Menu
Main Menu setelah menamatkan gim.

Pertama kali saya melihat seri ini yang saya bisa tebak adalah ada hal yang berbau dark dari novel visual ini, karena sub-title dari Putrika sendiri adalah ‶The Reason She Must Perish″, dan ternyata memang benar. Putrika 1st.cut ini berfokus pada salah satu karakter yang menjadi latar belakang yang terjadi di cerita ini, meskipun juga berfokus pada karakter lainnya terutama Remi dan Lazriel sendiri. Penyajian cerita pada Putrika bisa saya katakan memiliki volume yang hampir sama seperti novel visual panjang pada umumnya, tetapi sangat pintar cara kemasnya dalam bentuk singkat, padat, dan jelas.

Remi: Tidak perlu alasan untuk baik kepada orang

Membahas cerita tentang kepercayaan, cinta, jati diri, hubungan antar sesama, keluarga, dan terutama kebahagiaan itu sendiri. Putrika membahas semua itu dan dihadirkan secara seimbang melalui 3 karakter utama dalam cerita ini yaitu Remi, pemuda yang bekerja sebagai pembuat perhiasan; Lazriel, gadis yang amnesia tetapi memandang hidup dalam sisi positif; dan Ilsa, seorang gadis yang sangat taat kepada kepercayaannya.

Blackwood: Arahkan pandanganmu sedikit kepada kenyataan. Memang ketaatanmu itu adalah hal yang baik, tetapi terlalu berlebihan itu juga bisa disebut hal tak baik.

Remi, yang berfokus pada rasa bersalahnya karena akan satu dan berbagai hal serta rasa ingin memiliki seseorang yang menemaninya sepanjang waktu. Lazriel, dalam hal mengenai jati diri, harapan, dan kepercayaan itu sendiri; dan pada akhirnya semua hadir pada seorang karakter yaitu Ilsa, seorang gadis yang mengalami manis pahit kehidupan yang di dalam cerita bisa dikatakan cukup hebat… Rasa dilemma Ilsa dan rasa bersalahnya Remi sangat digambarkan cukup baik secara penulisan, yang tentu saja mengaduk emosi, sampai tak sadar sudah menitihkan airmata. Tetapi, pada awal cerita perubahan pergantian sudut pandang cerita sering terjadi membuat saya hampir bingung akan apa yang sebenarnya terjadi dalam cerita ini, tetapi semua itu dibayar lunas ketika mencapai klimaks dalam cerita ini.

‶Di dunia ini masih banyak hal yang indah dan ajaib. Fokuskan;ah pendengaranmu, maka kamu bisa mendengar suara angin dan pepohonan. Suatu saat… Malaikat pun mungkin akan turun ″

Secara ilustrasi tidak ada banyak yang bisa saya katakan tetapi ilustrasi dan desain karakter cukup memberikan kesan yang cocok dalam Putrika ini. Tidak hanya itu, dalam hal musik saya bisa acungkan jempol karena sungguh membantu secara emosi dan memberikan relaksasi tersendiri, juga dari alunan piano yang dominan dalam Putrika ini.

Pada akhirnya yang saya ingin bahas dari ulasan ini adalah hal yang bisa dibahas dalam kisah Putrika yang bisa kita temukan di dunia nyata.

Apakah mencintai seseorang itu salah?

Apakah terlalu taat kepada agama itu pun juga salah?

Asnh: Memang hal yang buruk. Tetapi, ini juga pembelajaran untuk manusia. Mereka tak akan bisa belajar tanpa melihat neraka terlebih dahulu. Hal seperti ini akan pasti terjadi kapan pun. Seperti hal yang disebut `perburuan penyihir` sekarang ini.
Karena itu, aku ingin kamu tetap percaya diri dan bangga pada dirimu sendiir. Kamu sudah menyelamatkanku dari kesepian. Aku hanya ingin kamu mengingat hal itu.
Jika keputusasaan yang begitu dalam membuatku kehilangan kewarasaan ini adalah bukti cinta, maka….

Dua hal inilah yang sangat dominan dalam Putrika, di mana terjadi romansa ala yuri yang terjadi dalam novel visual ini, di mana sebagian orang tidak terima hal tersebut terjadi. Kepercayaan terhadap sesuatu yang terlalu dalam juga menjadi hal yang tak baik. Penggambaran manusia yang mudah terbawa arus hingga berakhir kehancuran di mana-mana, pencarian jati diri, dan kebahagiaan masing-masing itu pun berbeda. Jikalau Remi dan Lazriel bisa bahagia satu sama lain dengan bergantung satu sama lain juga, berbeda dengan Ilsa yang memilih menghapus dirinya dari dunia demi mempertahankan jati dirinya dan perasaan sayangnya terhadap satu orang.

Pada akhirnya, Putrika mengajarkan bahwa terlalu berlebihan itu tidak baik dan sebagai manusia kita harus menyeimbangkan agama dan hal lainnya agar tidak terbawa arus dari luar, karena pada akhirnya semua pilihan kembali ke diri masing-masing. Dan jalani kehidupanmu itu dengan bahagia tanpa penyesalan sampai akhir. Karena setelah gelap, terang pastilah terbit.

KAORI Nusantara

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.