Skandal MangaOne: Shogakukan Diduga Lindungi Mangaka Terpidana Kekerasan Seksual Anak

0

Keadilan baru sedikit terlihat pada tanggal 20 Februari 2026. Pengadilan perdata yang diajukan oleh pihak korban akhirnya menjatuhkan penalti denda kompensasi sebesar 11 juta yen (sekitar 1,1 miliar rupiah) kepada Kurita. Tragedi yang paling menyayat hati adalah sikap pelaku di dalam ruang sidang. Kurita dengan santai dan tanpa beban menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan atau penyesalan apa pun terkait kejadian tersebut. Ia bahkan sempat berargumen bahwa hubungan tersebut didasari asas suka sama suka, sebuah pembelaan yang tidak masuk akal, mengingat hukum Jepang menyatakan anak di bawah usia 16 tahun tidak memiliki kapasitas legal untuk memberikan persetujuan (consent) seksual.

Keterlibatan Redaksi MangaOne: Uang Bungkam dan Identitas Palsu

Bagi #Kaoreaders yang mengikuti perkembangan industri komik, bagian paling menyulut emosi dari skandal ini pastilah keterlibatan institusi penerbitan yang seharusnya menjadi penyaring moral dan pelindung para kreator maupun pembaca. Redaksi MangaOne terbukti mengetahui kasus penangkapan Kurita pada tahun 2020 silam. Mereka bahkan sempat menghentikan sementara serial Daten Sakusen yang saat itu sedang berjalan.

Copyright © Shogakukan inc.

Namun, pada bulan Mei 2021, seorang editor MangaOne bernama Takuya Narita diduga bertindak jauh melampaui batas kewajarannya sebagai seorang profesional. Berdasarkan laporan yang beredar, Narita turut campur tangan dalam grup aplikasi pesan dan mendekati korban. Ia bertindak mewakili pelaku untuk menawarkan uang damai sebesar 1,5 juta yen (sekitar 165 juta rupiah). Syarat dari uang damai ini sangat licik. Korban harus mencabut seluruh tuntutan hukum dan dilarang menceritakan kasus ini kepada siapa pun di muka bumi. Beruntung, pihak korban memiliki keberanian luar biasa dan menolak mentah-mentah tawaran kotor tersebut.

Sikap tidak pantas sang editor ini terekam dengan sangat jelas dalam jejak digitalnya di masa lalu. Pada tanggal 31 Oktober 2022, Takuya Narita menuliskan sebuah cuitan yang seolah olah sama sekali tidak peduli dengan penderitaan dan hancurnya masa depan korban.

Dalam cuitan tersebut, Narita menyatakan bahwa meski ia merasa ada rasa penyesalan, keputusan egoisnya untuk mencoba melanjutkan serialisasi Daten Sakusen bukanlah sebuah kesalahan bagi dirinya. Ia merasa bangga bisa terlibat dalam proyek tersebut tanpa memedulikan latar belakang kelam sang penulis.

Puncak dari kebobrokan sistem editorial Shogakukan ini terjadi pada bulan Desember 2022. Di bawah pembinaan pimpinan redaksi yang menjabat saat itu, yaitu Hiroki Wada dan kemudian dilanjutkan oleh Fumitoshi Mameno, aplikasi MangaOne kembali mempekerjakan Kurita. Agar jejak kriminalnya tidak terendus oleh publik dan pihak korban, pihak redaksi diduga sengaja menyembunyikan identitas Kurita di balik nama pena baru. Ia diberikan nama Hajime Ichiro untuk menggarap posisi penulis cerita pada manga Jojin Kamen. Belum dapat dipastikan apakah terdapat unsur kesengajaan dari redaksi dan para editor MangaOne atau tahu-menahu terhadap jejak kejahatan Kurita sampai tulisan ini diterbitkan.

Rasa Bersalah Kolektif, Kemarahan Industri, dan Tuntutan Transparansi

Tulisan panjang Eno Sumi di platform Note tidak hanya membongkar kronologi kejahatan, tetapi juga menyoroti beban psikologis luar biasa yang kini harus ditanggung oleh para kreator dan penggemar yang sama sekali tidak berdosa. Eno mengaku bahwa dirinya pernah menggambar karya penggemar (fanart) untuk seri Daten Sakusen pada masa lalu untuk mendukung sang kreator. Kini, ia dihinggapi rasa bersalah yang tidak tertahankan karena menyadari bahwa dukungan para penggemar di masa lalu secara tidak langsung telah memberikan panggung kehormatan bagi seorang monster. Eno juga menyadari bahwa setiap kali korban melihat karya seni pujaan untuk pelaku bertebaran di internet, hal itu sama saja dengan menorehkan luka tambahan yang memperparah kondisi mental sang korban.

Skandal gelap ini langsung memantik kemarahan luar biasa dari nama nama besar di industri hiburan Jepang. ONE, sang kreator legendaris di balik serial super populer One Punch Man dan Mob Psycho 100, memberikan kecaman keras secara terbuka melalui akun X pribadinya.

ONE secara tegas dan tanpa ragu menyatakan bahwa dirinya tidak sudi bekerja sama atau membentuk tim dengan pihak pihak yang tidak bisa mengutuk kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur secara jelas. Ia menuntut pihak terkait, khususnya penerbit raksasa Shogakukan, untuk segera mengungkap kebenaran secara transparan dan berpihak penuh pada keadilan korban.

Merespons krisis kepercayaan berskala masif ini, Asosiasi Mangaka Jepang (Nihon Mangaka Kyokai) langsung turun tangan mengambil sikap. Pada tanggal 28 Februari 2026, mereka merilis sebuah pernyataan resmi yang menyatakan keprihatinan mendalam atas keterlibatan pihak penerbit dalam melindungi terpidana kejahatan seksual.

Asosiasi menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar urusan satu perusahaan, melainkan menyangkut kepercayaan fundamental seluruh industri manga di mata dunia. Mereka menuntut pihak penerbit untuk segera melakukan investigasi internal yang menyeluruh dan transparan. Investigasi tersebut harus sangat memperhatikan martabat serta keamanan korban yang selama ini terabaikan. Asosiasi juga mendesak agar hasil investigasi dan langkah pencegahan dipublikasikan secara luas agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali. Lebih lanjut, mereka meminta penerbit memberikan jaminan ketenangan bagi para mangaka lain yang kini merasa cemas dan tidak aman dengan iklim kerja serta kontrak mereka di masa depan bersama penerbit tersebut.

Baca juga: Sambut Komik-Komik Shoujo Terbitan Shogakukan di MangaMon

Kemarahan tidak hanya timbul dari asosiasi dan mangaka. Mantan mangaka terkenal yang kini menjabat sebagai anggota parlemen Jepang, Ken Akamatsu ikut menyampaikan keprihatinannya. Meski mengatakan bahwa tindakanya mungkin bisa berarti tekanan kepada peusahaan publik, sebagai seorang mantan mangaka, ia mengatakan bahwa “sudah saatnya industri manga mulai memikirkan bagaimana mengganti artis, memberi kompensasi pada pihak yang terugikan, dan bagaimana menangani karya tersebut ke depannya”.

Tidak tanggung-tanggung, Sohei Kamiya, ketua partai Sanseito, ikut turun tangan berbicara. Ia meminta Shogakukan segera melakukan investigasi dan mengatakan skandal ini “bisa menumbangkan Perusahaan”.

Setelah diamuk oleh warganet Jepang. Pada Sabtu siang, sejumlah akun media sosial di bawah naungan Shogakukan seperti Weekly Shonan Sunday kompak memosting pernyataan resmi dari Shogakukan.

“Mengenai Pengangkatan Penulis ke Manga One

Departemen editorial Manga One menunjuk Shoichi Yamamoto, penulis “Operation Fallen Angel,” ke staf editorial seri manga “Ordinary Man Mask” setelah ia ditangkap dan didakwa secara singkat karena melanggar Undang-Undang Larangan Prostitusi Anak dan Pornografi (produksi) dan didenda. Meskipun demikian, kami menunjuknya dengan nama pena yang berbeda, “Ichiro Ichi,” sebagai penulis seri baru, “Ordinary Man Mask.” Seharusnya ia tidak pernah diangkat.

Pelecehan seksual, eksploitasi seksual, dan semua pelanggaran hak asasi manusia tidak pernah dapat diterima. Mengenai “Ordinary Man Mask,” kami telah menangguhkan distribusi dan pengiriman buku tersebut karena kesalahan serius dalam keputusan kami untuk mempekerjakan seorang penulis dan sistem verifikasi kami. Ini adalah masalah serius yang mempertanyakan tanggung jawab pengawasan kami sebagai perusahaan, dan kami mengakui bahwa kami kurang memperhatikan hak asasi manusia dan kepatuhan.

Untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi, kami akan membentuk komite investigasi, termasuk seorang pengacara, untuk segera mengklarifikasi fakta dan penyebabnya, termasuk keadaan seputar dimulainya seri ini dan keterlibatan editor, termasuk negosiasi penyelesaian. Setelah itu, kami akan melaporkan hasil investigasi kami, mengambil tindakan disiplin yang tegas, dan merumuskan serta menerapkan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Mengenai insiden ini, perhatian utama kami seharusnya adalah perasaan mereka yang terkena dampak. Kami dengan tulus meminta maaf karena tidak berempati dengan perasaan mereka.

Kami juga ingin menyampaikan permintaan maaf terdalam kami kepada Tsuruyoshi Eri, ilustrator “Ordinary Mask,” para penulis yang menulis untuk berbagai publikasi kami, dan semua pihak lain yang terlibat, karena telah mengkhianati kepercayaan mereka dan menyebabkan kekhawatiran serta ketidaknyamanan yang besar bagi mereka.

Dan kami ingin sekali lagi meminta maaf kepada Anda semua yang telah mencintai dan membaca karya-karya Shogakukan.”

Situs MangaOne terpantau hanya menampilkan konten berisi klarifikasi dan permohonan maaf pada halaman utamanya.
Situs MangaOne terpantau hanya menampilkan konten berisi klarifikasi dan permohonan maaf pada halaman utamanya. | Copyright © Shogakukan inc.

KAORI Newsline | Sumber: Livedoor, Note Eno Sumi

1
2
Artikel sebelumnya#TOPUPBAWABERKAH, Lapakgaming Hadirkan Keberkahan, dapatkan Keamanan Transaksi di Bulan Ramadan
Farrenswolf
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nulla nec lectus volutpat, sollicitudin risus sed, eleifend libero. Phasellus viverra nunc id sapien ultrices, nec eleifend lacus elementum. Aliquam a mauris mauris. Sed tincidunt, ipsum ut cursus vestibulum, neque orci vestibulum quam, nec convallis nisl ex ac nisi. Integer varius, augue ut euismod posuere, mi quam iaculis nisi, vel fringilla tellus nisl id augue. Quisque lacinia lorem sit amet lorem varius, id porttitor lacus bibendum. Donec magna neque, dictum vitae mattis ut, tincidunt congue neque. Integer malesuada metus vitae risus egestas congue quis in enim. Maecenas accumsan molestie felis a tristique. In venenatis ligula urna, a bibendum justo sodales a. Quisque faucibus maximus tellus, ac convallis risus vehicula quis. Aliquam mollis congue ullamcorper. Ut blandit elit eu fermentum fringilla.

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses